Kamis, 14 April 2016

Beberapa Pendekatan PAK Dalam Masyarakat Majemuk


Teori yang dikemukakan tentang pendekatan Pendidikan Agama Kristen dalam masyarakat majemuk juga menagalami ragam usulan. Dalam postingan ini saya mengemukakan salah satu usulan pendekatan PAK dalam masyarakat majemuk yang berdasarkan 4 pendekatan:

Pertama, pendekatan yang disebut dengan "religious Instruction" atau pendakatan instruksional

Kedua, pendekatan yang disebut dengan istilah "Spiritual Development atau pendekatan perkembangan spiritual

Ketiga, pendekatan yang disebut dengan istilah " Faith Cammunity atau pendekatan komunitas iman

Keempat, pendekatan Social Transformation atau pendekatan transformasi sosial

Pendekatan-pendekatan di atas memiliki karakteristik seperti: berhadapan dengan dunia, melihat jemaat sebagai setting utama, menggunakan refleksi teologis dan menekankan pengalaman yaitu terjadinya pembelajaran sesuai nilai-nilai Kristiani yang bersumber pada Alkitab.

Jadi keempat pendekatan itu dapat dipakai dalam Pendidikan AGama Kristen dalam Masyarakat majemuk.

Pendidikan Agama Kristen yang Altruis dalam Masyarakat Multikultural


Pendidikan AGama Kristen dalam Masyarakat Majemuk harus berbasis pada tindakan altruis. Tindakan altruis Guru PAK bagi peserta didik yang dilayani dengan pelayanan kependidikan Kristen dalam masyarakat majemuk dapat disaksikan dalam surat-surat Paulus. Khususnya dalam I Kor. 9:1-27 tentang hak dan kewajiban rasul. Paulus memiliki hak untuk mendapat penghidupan dari pemberitaan itu. Akan tetapi Paulus tidak menggunakan hak itu. Inilah tindakan altruis dari Paulus. Paulus menolong jemaat Korintus untuk kebaikan mereka yaitu mereka berkembang dalam iman. Untuk mencapai maksud itu, Paulus rela berbuat baik dengan mengabaikan apa yang menjadi haknya. Paulus menjadi altruis dengan orang yang dilayaninya yaitu jemaat Korintus. Paulus lebih mementingan kepentingan orang lain. Hal ini Nampak dari kerelaan Paulus untuk tidak menuntut haknya sebagai pemberita Injil. Inilah tindakan altruis dari Paulus untuk orang lain.

Altruisme bagi yang dilayani merupakan pokok penting dalam pelayanan kepemimpinan kemandirian gereja. Seorang pemimpin adalah orang yang bersedia altruis bagi kelompok yng dilayani. Paulus dalam pelayanannya menerapkan esensi dari altruism. Paulus menuliskan surat-suratnya kepada kelompok-kelompok kecil orang yang dikenalnya secara pribadi, yaitu Timotius, Titus, dan Filemon. Paulus juga menulis surat-surat kepada kelompok-kelompok besar pembaca, seperti jemaat di Roma, Korintus, dan Galatia. Surat-surat ini memberikan wawasan tentang mengapa pemimpin itu ada. Dia juga menambahkan wawasan tentang pengetahuan, keahlian, dan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan pemimpin-pemimpin saat ini. Ketika mempelajari surat-surat Paulus kepada Roma, Korintus, Galatia, Tesalonika dan Filemon, maka akan nampak suatu pokok yang tidak dapat hindari oleh jemaat adalah kebutuhan akan pemimpin dan kepemimpinan atau yang disebut dengan kepemimpinan gereja. Gereja adalah persekutuan yang dipanggil Yesus Kristus yang perlu dipimpin sesuai dengan kepemimpinan Yesus.

Paulus mengemukakan kepemimpinan altruis yaitu kepemimpinan berdasar rasa belas kasihan, kesadaran diri, kebenaran oleh iman, komitmen, dan komunitas. Belas Kasihan melalui Kesatuan Rohani. Orang-orang Kristen Yahudi di dekat Yerusalem berada di tepi jurang kelaparan. Paulus menyebut mereka sebagai "orang-orang saleh yang miskin di Yerusalem" (Roma 15:26). Paulus mengumpulkan persembahan untuk orang miskin, dan ia mendesak pertanggungjawaban orang Kristen untuk membantu mereka yang membutuhkan. Dia mencari kesempatan bagi orang-orang Kristen non-Yahudi untuk menjangkau dengan belas kasihan serta untuk menunjukkan kesatuan rohani.

Kepemimpinan Guru PAK Multikultural Inklusif


Banyak definisi mengenai kepemimpinan yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, tergantung pada perspektif yang digunakan. Disini hanya dikemukakan pendapat Tannenbaum, Weschler & Massarik tentang kepemimpinan, yaitu kepemimpinan adalah pengaruh antarpribadi, yang dijalankan dalam suatu sistem situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapain satu tujuan atau beberapa tujuan tertentu. Selain itu Slamet Santosa mendefinisikan kepemimpinan sebagai usaha untuk mempengaruhi anggota kelompok agar mereka bersedia menyumbangkan kemampuannya lebih banyak dalam mencapai tujuan kelompok yang telah disepakati. Jadi, berdasarkan definisi ini kita mermuskan pengertian kepemimpinan guru PAK adalah kemampuan untuk mempengaruhi pikiran, perilaku, dan / atau perasaan orang lain". Dalam konteks kepemimpinan Multikultural Inklusif Kristen berarti Guru PAK adalah seorang yang mampu mempengaruhi orang lain dalam pikiran, sikap, kemampuan, dan keterampilan. Kemampuan mempengaruhi dapat melibatkan kedua cara langsung (misalnya mengajar, keterampilan kelompok) serta sarana tidak langsung (misalnya sikap, hubungan pribadi). Kedua cara langsung dan tidak langsung yang diperlukan untuk merangsang para pemimpin, di semua tingkat keberadaan mereka (kognitif, afektif, fisik), untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan.

Jadi jelslah bahwa kepemimpinan guru PAK yang multikultural Inklusif yaitu kepemimpinan untuk menjadi orang dengan "kemampuan untuk mempengaruhi pikiran, perilaku, dan / atau perasaan orang lain". "Kapasitas" dapat merujuk pada kemampuan untuk mempengaruhi, tetapi juga menyiratkan gagasan substansi atau volume seperti pada koleksi sikap, kemampuan, dan keterampilan. Kemampuan mempengaruhi dalam definisi ini dapat melibatkan kedua cara langsung (misalnya mengajar, keterampilan kelompok) serta sarana tidak langsung (misalnya sikap, hubungan pribadi). Kedua cara langsung dan tidak langsung yang diperlukan untuk merangsang para pemimpin, di semua tingkat keberadaan mereka (kognitif, afektif, fisik), untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan. Di dalam kepemimpinan multi-kultur ini, lebih ditujukan kepada budaya pemimpin (yang mempengaruhi) yang berbeda dengan pengikutnya (yang dipengaruhi). Maka kepemimpinan multi-kultur merupakan kemampuan seorang pemimpin untuk mempengaruhi dan memotivasi anggota grupnya yang berbeda budaya dengan sengaja dan tidak seimbang menuju sasaran yang diterapkan dengan mempertimbangkan pengetahuan dan sistem makna dari budaya yang berbeda didalam grup. Atau dengan kata lain adalah pemimpin yang mampu menyesuaikan dan menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan situasi, budaya dan kondisi lingkungan yang beragam.

Budaya secara tidak langsung berpengaruh terhadap prilaku kepemimpinan. Hal itu dikemukakan oleh Bowditch dan Buono dengan alasan bahwa sikap dan prilaku seseorang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dipegangnya, dan nilai – nilai itu dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan sosial. Seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya perlu menyadari bahwa setiap individu, walaupun berada dalam satu unit kerja yang sama namun tetap memiliki nilai-nilai yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, agar proses kepemimpinan dapat berjalan dengan efektif, maka setiap pemimpin hendaknya menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi yang ada sehingga tidak menimbulkan masalah dan konflik dengan bawahannya dan organisasinya.

Pemimpin dengan gaya kepemimpinan Multikultural Inklusif ini membangun efektivitas tim dan individu serta mengarahkan inovasi dalam perbedaan multikultural pada anggota kelompoknya dengan sikap terbuka terhadap kelompok lain. Ia tidak bersikap eksklusif (menutup atau menjauhkan diri dari kelompok lainnya)

Teori Pendidikan Agama Kristen Majemuk


Situasi masyarakat dalam suatu negara melahirkan teori-teori, misalnya Pendidikan Agama Kristen dalam Masyarakat Majemuk. Jauh sebelum Pendidikan Agama Kristen terbuka terhadap teori Pendidikan Multikultural yang sedikit banyak datang dari Negara Canada. Boleh dikatakan di Canada gerakan tentang Pendidikan Multikultural sangat gencar dilakukan. Sama dengan konteks di Indonesia. Di Indonesia terdapat bermacam-macam pluralisme atau tepatnya multikultural. Dalam konteks masyarakat yang multikultural inilah setiap orang, khususnya akademisi dapat mengemukakan dan mengembangkan teori Pendidikan Multikulturalisme. Dalam konteks kemajemukan ini juga dapat mempengaruhi para pendidik Kristen memikirkan dan menghasilkan teori Pendidikan AGama Kristen Multikultural. Buku-buku dengan tema PAK Multikultural sangat sedikit diterbitkan di Indonesia. Oleh karena itu perlu ada fokus pemikiran ke arah multikultural untuk menghasilkan teori pendidikan agama Kristen Multikultural.

Kemajemukan di Indonesia


Indonesia telah lama dikenal sebagai negara kepulauan serentak dengan itu keragaman budaya, keragama bahasa, keragaman agama, keragaman sosial. Keragaman ini dapat diterima sebagai kekayaan bangsa tetapi juga bisa menjadi peluang perpecahan. Itulah sebabnya pendidiri negara telah merumuskan filosofi "Bhineka Tunggal Ika", berbeda tetapi satu. Kesetiaan terhadap filosofis ini dapat menolong bangsa Indonesia terhindar dari perpecahan. Konflik SARA dapat dihindari. Dalam negara yang menganut Bhineka Tunggal Ika maka semua perbedaan yang ada, seperti perbedaan suku, misalnya ada etnis China atau etnis Tionghoa dan etnis-etnis lain membangun kebersamaan. Kebersamaan sebagai bangsa Indonesia. Kita juga bisa melihat etnis dominan tetapi tetap berada dalam kerangka Bhineka Tunggal Ika. Jadi pendidikan Kristen sadar bahwa ia melaksanakan Pendidikan Kristen dalam konteks Bhineka Tunggal Ika. Peserta didik Kristen juga berasal dari berbagai etnis. Oleh karena itu maka ada urgensi dari PAK Masyarakat Majemuk.

Alasan Pelaksanaan Kuliah PAK Majemuk


Pendidikan AGama Kristen dalam Masyarakat Majemuk merupakan mata kuliah yang disajikan karena kebutuhan akan interaksi gereja dengan sesama yang berbeda agama. Di Indonesia, agama yang diakui negara yaitu Islam, Kristen (Katolik, Protestan, Pentakosta, Kharisamatik), Hindu/Budha,Kong Fu Cu. Menghadapi fakta ini maka Pendidikan Agama Kristen harus terbuka tetapi tidak kehilangan identitas diri. Jadi alasan yang paling kuat diberikannya mata kuliah PAK dalam Masyarakat Majemuk karena secara realitas Indonesia ada beberapa agama. Selain itu ada perbedaan suku, budaya, bahasa dan lain sebagainya. Kadang perbedaan ini bila tidak dikelola secara baik maka akan menimbulkan masalah seperti konflik, misalnya konflik SARA dll.

Dalam mata kuliah Pendidikan AGama Kristen mahasiswa akan mendapat sejumlah pengetahuan dan prakti menjadi guru Pendidikan AGama Kristen yang multikultural dan Inklusif. SIkap demikian tidak mesti menghilangkan kepercayaan kepada TUHAN YESUS. Orang Kristen tetap percaya kepada Yesus dan membangun kehidupan bersama yang lebih baik. Yesus berkata: Lalang dan gandum akan hidup bersama. Kebersamaan itu penting. Akan ada masa penuaian. Dalam masa penuaianlah semua orang dari keyakinan manapun akan diuji. Apakah murni atau palsu.

Standar Kompetensi Mata Kuliah


Mahasiswa mampu melaksanakan Pendidikan Agama Kristen dalam konteks Masyarakat Majemuk di Indonesia. Untuk mencapai tujuan ini maka Standar Kompetensi Mata Kuliah Pendidikan Agama Kristen dalam Masyarakat Majemuk dibagi dalam beberapa Kompetensi Dasar. Menurut teori AA minimal 3 Kompetensi Dasar dan Maksimal 7 Kompetensi Dasar. Setiap Kompetensi Dasar dikembangkan lagi dalam beberapa indikator yang mengarah pada kompetensi yang diharapkan diwujudkan dalam diri peserta didik atau mahasiswa.

Silakan kunjungi perubahan alamat blog di: http://bahanajar-pakmasyarakatmajemuk.blogspot.co.id/