Kode HTML Karya Anakku

Tuhan Yesus Memberkati


Enjoy Your Visit

Pemuda Kristen Indonesia

Crated By : Wingren THeodoretus
visit me @ my Facebook/ Twitter:
https://www.facebook.com/wingren.theodoretus?ref=tn_tnmn
http://twitter.com/wingren.muanley
Add Me
Fully Christian

Senin, 20 Oktober 2014

Kopi Paste


Alamat blog yang mengkopi Paste bahan saya yaitu di alamat blog berikut ini: http://yannyhya.blogspot.com/2014/05/pak-dalam-masyarakat-majemuk.html Pemilik blog ini Yanny Hya. Ia mengkopi beberapa bahan saya tanpa mencantumkan sumber dari Blog saya dengan alamat: http://masyarakatmajemuk.blogspot.com/2014/10/kopi-paste.html HARAP JANGAN MENGIKUTI CARA COPI PASTE DEMIKIAN Para pengunjung blog, bila Anda mendapati tulisan yang persis sama dengan isi blog ini maka isi blog itu adalah sebagiannya kopi paste dari blog saya. Beberapa Bahan saya tentang PAK Dalam Masyarakat Majemuk yang dikopi paste dapat anda lihat dalam blog berikut ini: http://yannyhya.blogspot.com/2014/05/pak-dalam-masyarakat-majemuk.html Bahan Saya tertanggal Minggu, 13 Januari 2013 Realitas Pluralisme Masyarakat Indonesia Bab 1 Realitas Pluralisme Masyarakat Indonesia Dalam kurikulum 2011 yang dikeluarkan Kemenag Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Indonesia yaitu menempatkan Realitas Pluralisme Masyarakat Indonesia sebagai pokok pertama dari materi kuliah Pendidikan Agama Kristen dalam Masyarakat Majemuk atau biasa disingkat PAK dalam Masyarakat Majemuk. Baiklah saya mulai pokok ini dengan pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan realitas pluralisme masyarakat Indonesia? Kita mulai dengan pengertian pluralisme. Pluralisme adalah keanekaragaman atau kebhinekaan. Jika demikian, dalam hal apakah kita dapat mengenakan atau menggunakan atau menempatkan kata pluralisme? Biasanya dalam konteks kehidupan komunitas masyarakat yang kompleks. Kompleksitas masyarakat yang dimaksud itu meliputi banyak aspek, misalnya: ideology, politik, social, dan budaya, dan lain-lain. [1] Selain itu, pluralisme juga diartikan sebagai adanya keberagaman dalam setiap unsure yang membentuk sendi kehidupan. Artinya tiap-tiap bagian dari ideology, politik, social, budaya memiliki kesamaan tetapi juga terdiri dari berbagai keragaman. [2] Dalam konteks pemahaman pluralisme sebagaimana yang dipaparkan di atas, jelas bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman atau kebhinekaan dalam aspek-aspek berikut ini: 1. Suku, yaitu di Indonesia terdapat 300 kelompok etnis dan sub etnis dengan beragam perbedaan bahasa dan dialek. Juga terdapat keturunan Cina, Arab, dan India yang hidup secara turun temurun di Indonesia. [3] 2. Agama. Di Indonesia terdapat beberapa agama yang diakui Negara yaitu: 2.1. Agama Islam. Di Indonesia Agama Islam terbagi kedalam beberapa kelompok, yaitu Nahdatul Ulama, Muhamadyah, Persis, dan lain-lain. 2.2. Kristen, yaitu Katolik, Protestan dengan beberapa aliran yaitu Protestan arus Lutheran, Calvinis (Reformed, Presbyterian), Anglikan (Episkopal), Mennonit, Baptis, Metodis, Pentakostal, Kharismatik, Injili (Evangelical), Bala Keselamatan, Adventis, dan beberapan aliran yang masih dihubungkan dengan Kristen yaitu Saksi Jehova (Menara Pengawal), Mormon (tidak ada di Indonesia), Christian Science, Scientology, Gerakan zaman baru. [4] 2.3. Hindu, Budha. 2.4. Kong Fu Cu, dan 2.5. Agama-agama suku yang beraneka ragam. 3. Budaya, terdapat beragam budaya di Indonesia. Pola kebudayaan yang berlandaskan penanganan penanaman padi dengan system irigasi (sawah), pola kebudayaan yang didasarkan pada penanganan penanaman padi dengan system perladangan. Selain dua kebudayaan ini, ada pengaruh kebudayaan dari luar seperti pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha, [5] kebudayaan yang dipengaruhi Islam, Kristen dan Kong Fu Cu. 4. Bahasa, di Indonesia terdapat 250 bahasa, dan 30 kelompok etnis. [6] 5. Pulau, di Indonesia terdapat kurang lebih 13.667 pulau. Ada pulau-pulau besar dan kecil. 6. Ekonomi yaitu adanya beragam variasi mulai dari system pertanian sampai industri modern, lembaga keuangan juga bervariasi mulai dari system permodalan bank keliling (rentenir, tengkulak) sampai bank modern, juga akhir-akhir ini bank syariah, sosial yaitu dari segi demografi, penduduk Indonesia tersebar di desa terpencil yang homogeny sampai kota yang heterogen dengan tingkat status sosial yang berbeda (yang kaya bertambah kaya, yang miskin dimiskinkan) maupun polititik. [7] Pokok-pokok di atas itulah yang dimaksudkan dalam topik: realitas pluralisme masyarakat Indonesia. Realitas pluralism demikian sering membuat masyarakat Indonesia rentang bahkan rawan terhadap konflik yang sering menelan korban, khususnya korban jiwa. Salah satu unsure pluralism Indonesia yang rawan terhadap konflik adalah pluralism agama. Adanya konflik di daerah-daerah tertentu karena alasan agama. Pemeluk Agama yang satu mengklaim agamanya yang paling benar, agama di luar dirinya adalah sesat/tidak benar bahkan dianggap kafir. Hal-hal ini menyebabkan harmonisasi kehidupan bermasyarakat sering mengalami konflik. Dalam konteks demikian bagaimana melaksanakan Pendidikan Agama Kristen. Salah satu solusinya adalah melalui mata kuliah “PAK dalam Masyarakat Majemuk”. Dengan kata lain, bagaimana melaksanakan Pendidikan Agama Kristen dalam hubungannya dengan sesama manusia yang tidak seiman namun tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bersama dalam sebuah Negara yang dikenal dengan masyarakat majemuk (masyarakat pluralis). PERHATIKAN KOPI PASTE DI BLOG ini http://yannyhya.blogspot.com/2014/05/pak-dalam-masyarakat-majemuk.html Tanggal Postingan Kamis, 22 Mei 2014 4. REALITAS DARI MAYARAKAT MAJEMUK DAN PLURALISME Dalam konteks pemahaman pluralisme sebagaimana yang dipaparkan di atas, jelas bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman atau kebhinekaan dalam aspek-aspek berikut ini: a. Suku, yaitu di Indonesia terdapat 300 kelompok etnis dan sub etnis dengan beragam perbedaan bahasa dan dialek. Juga terdapat keturunan Cina, Arab, dan India yang hidup secara turun temurun di Indonesia. b. Agama, di Indonesia terdapat beberapa agama yang diakui Negara yaitu: • Agama Islam. Di Indonesia Agama Islam terbagi kedalam beberapa kelompok, yaitu Nahdatul Ulama, Muhamadyah, Persis, dan lain-lain. • Kristen, yaitu Katolik, Protestan dengan beberapa aliran yaitu Protestan arus Lutheran, Calvinis (Reformed, Presbyterian), Anglikan (Episkopal), Mennonit, Baptis, Metodis, Pentakostal, Kharismatik, Injili (Evangelical), Bala Keselamatan, Adventis, dan beberapan aliran yang masih dihubungkan dengan Kristen yaitu Saksi Jehova (Menara Pengawal), Mormon (tidak ada di Indonesia), Christian Science, Scientology, Gerakan zaman baru. • Hindu, Budha. • Kong Fu Cu, dan Agama-agama suku yang beraneka ragam. d. Budaya, terdapat beragam budaya di Indonesia. Pola kebudayaan yang berlandaskan penanganan penanaman padi dengan system irigasi (sawah), pola kebudayaan yang didasarkan pada penanganan penanaman padi dengan system perladangan. Selain dua kebudayaan ini, ada pengaruh kebudayaan dari luar seperti pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha, kebudayaan yang dipengaruhi Islam, Kristen dan Kong Fu Cu. e. Bahasa, di Indonesia terdapat 250 bahasa, dan 30 kelompok etnis. f. Pulau, di Indonesia terdapat kurang lebih 13.667 pulau. Ada pulau-pulau besar dan kecil. g. Ekonomi yaitu adanya beragam variasi mulai dari system pertanian sampai industri modern, lembaga keuangan juga bervariasi mulai dari system permodalan bank keliling (rentenir, tengkulak) sampai bank modern, juga akhir-akhir ini bank syariah, sosial yaitu dari segi demografi, penduduk Indonesia tersebar di desa terpencil yang homogeni sampai kota yang heterogen dengan tingkat status sosial yang berbeda (yang kaya bertambah kaya, yang miskin dimiskinkan) maupun politik. Pokok-pokok di atas itulah yang dimaksudkan dengan realitas pluralisme masyarakat Indonesia. Realitas pluralisme demikian sering membuat masyarakat Indonesia rentang bahkan rawan terhadap konflik yang sering menelan korban, khususnya korban jiwa. Salah satu unsur pluralisme Indonesia yang rawan terhadap konflik adalah pluralisme agama. Adanya konflik di daerah-daerah tertentu karena alasan agama. Pemeluk Agama yang satu mengklaim agamanya yang paling benar, agama di luar dirinya adalah sesat/tidak benar bahkan dianggap kafir. Hal-hal ini menyebabkan harmonisasi kehidupan bermasyarakat sering mengalami konflik. Dalam konteks demikian bagaimana melaksanakan Pendidikan Agama Kristen. Salah satu solusinya adalah melalui mata kuliah “PAK dalam Masyarakat Majemuk”. Dengan kata lain, bagaimana melaksanakan Pendidikan Agama Kristen dalam hubungannya dengan sesama manusia yang tidak seiman namun tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bersama dalam sebuah Negara yang dikenal dengan masyarakat majemuk (masyarakat pluralis). 5. DASAR TEOLOGIS DARI MASYARAKAT MAJEMUK Dasar teologis tentang masyarakat majemuk dalam uraian ini tidak bersifat biblika yaitu mencari refrensi ayat-ayat Alkitab yang berhubungan dengan masyakat majemuk, kemudian dicari makna aslinya (eksegesis). Usaha eksegesis itu sangat penting. Akan tetapi dalam usaha memahami dasar teologis tentang masyarakat Pluralisme Indonesia, penulis menggunakan pendekatan teologis. Yang di maksudkan dengan pendekatan teologis yaitu pembicaraan topik-topik tertentu secara lintas teks Alkitab, usaha memahami lintas teks ini bermaksud merangkum pemahaman tentang masyarakat majemuk. Ketika membicarakan masyarakat majemuk, manusia perlu meletakkan percakapan masyarakat majemuk dalam dasar yang disebut dengan dasar teologis. Jika demikian apa dasar teologis dalam masyarakat majemuk. Perhatikan bahwa yang distabilo di atas adalah Kopi Paste dari Blog saya. Isi Blog saya tentang dasar Teologi Masyarakat Majemuk sbb: Minggu, 13 Januari 2013 Dasar Teologis dan Paedagogis Masyarakat Pluralisme Indonesia Dasar Teologis Dasar Teologis merupakan salah satu bagian dari sub topik pembahasan dari Mata Kuliah Pendidikan Agama Kristen dalam Masyarakat Majemuk atau sering disingkat PAK dalam Masyarakat Majemuk. Dasar teologi yang saya maksud dalam sub topic ini dapat dipaparkan sebagai berikut: Dasar teologis tentang masyarakat majemuk dalam uraian ini tidak bersifat biblika yaitu mencari refrensi ayat-ayat Alkitab yang berhubungan dengan masyakat majemuk, kemudian dicari makna aslinya (eksegesis). Usaha eksegesis itu sangat penting. Akan tetapi dalam usaha memahami dasar teologis tentang masyarakat Pluralisme Indonesia, saya menggunakan pendekatan teologis-filosofis. Yang saya maksudkan dengan pendekatan filosofis-teologis yaitu pembicaraan topik-topik tertentu secara lintas teks Alkitab, usaha memahami lintas teks ini bermaksud merangkum pemahaman tentang masyarakat majemuk. Ketika kita membicarakan masyarakat majemuk, kita perlu meletakkan percakapan masyarakat majemuk dalam dasar yang disebut dengan dasar teologis dan paedagogis. Jika demikian apa dasar teologis dan Paedagogis dalam masyarakat majemuk. Upaya membahas dasar teologis dan Paedagogis dalam masyarakat majemuk utama dan pertama kita dasarkan pada Alkitab dan sumber-sumber teologi (hasil pemikiran para teolog). Sumber teologi kedua ini tentulah didasarkan pada Alkitab. Artinya pemahaman para teolog tentang sikap Kristen terhadap penganut agama-agama lain tentunya didasarkan pada Alkitab. Sedangkan akan sumber pertama yaitu Alkitab yang diyakini gereja sebagai kanon patut dijadikan sebagai sumber utama berteologi tentang sikap Gereja/Kristen/guru agama Kristen/pendidik Kristen terhadap pluralisme agama. Akan maksud demikian mungkin terbersit pertanyaan: Apakah Alkitab menyaksikan tentang masyarakat majemuk/pluralisme?. Bila kita katakan ya, maka segera muncul pertanyaan, apakah Alkitab adalah kitab masyakat majemuk? Jawabannya tentu tidak. Alkitab bukan kitab masyarakat majemuk tetapi kitab yang menyaksikan salah satu realitas yaitu masyakat majemuk. Alkitab memulai kesaksiannya tentang masyarakat dengan dua manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa (bnd. Kej. 2), manusia itu beranak cucu dan berkembang dari masa ke masa sampai terbentuknya suatu kelompok masyarakat yang agamis, yaitu umat Israel dengan kelompok masyarakat yang menyembah dewa-dewa. Berbeda secara agamawi, selain itu perkembangan manusia melahirkan perbedaan-perbedaan dalam sosial, budaya, kekuasaan (politik), ekonomi dan lain-lain. Tegasnya Alkitab menyaksikan tentang masyarakat majemuk yang dimulai dengan Adam dan Hawa, Kain, Habel, Zet, Nuh, Abraham dan seterusnya sampai umat Israel. Tuhanlah yang menciptakan manusia, entah itu manusia yang saleh maupun manusia berdosa termasuk manusia yang kafir adalah ciptaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan manusia kafir, Tuhan menciptakan manusia, dan dalam perkembangannya ada manusia yang percaya kepada TUHAN dan ada pula yang tidak percaya. Bagian ini menyangkut doktrin pilihan yang dapat dipercakapkan dalam Dogmatika (Soteriologi).Tegasnya secara teologis anggota dari masyarakat majemuk yaitu manusia adalah ciptaan Tuhan. Kitab Kejadian dan kitab-kitab dalam Alkitab membenarkan hal itu. Manusia dari suku, budaya, tingkat social, agama manapun, tetap manusia adalah ciptaan TUHAN. Minggu, 10 Maret 2013 Model PAK yang multicultur dan Inklusif yang cocok dengan Masyarakat Indonesia Pendidikan multicultural dapat dirumuskan sebagai wujud kesadaran tentang keanekaragaman cultural, hak-hak asasi manusia, serta pengurangan atau penghapusan berbagai jenis prasangka untuk membangun suatu kehidupan masyarakat yang adil dan maju. Pendidikan multicultural juga dapat diartikan strategi/perencanaan untuk mengembangkan kesadaran akan kebanggaan seseorang terhadap bangsanya. Di Indonesia pendidikan multicultural relative baru dikenal sebagai suatu pendekatan yang dianggap lebih sesuai bagi masyarakat Indonesia yang hetrogen, plural, terlebih pada masa otonomi dan desentralisasi yang diberlakukan sejak 1999. Pertentangan etnis yang terjadi di negeri ini mengajarkan betapa pentingnya pendidikan multicultural bagi masyarakat. Pada sentra-sentra kebudayaan, seperti kota-kota besar, di mana hidup berbagai macam etnis di dalamnya, pertemuan antar kebudayaan merupakan persoalan yang menarik. Pada prinsipnya, pendidikan multicultural adalah pendidikan yang menghargai perbedaan. Untuk mendisain Pendidikan multicultural secara praktis memang s tidak mudah. Akan tetapi untuk mewujudkan pendidikan multicultural maka perlu diperhatikan dua hal: Pertama, dialog. Pendidikan multicultural tidak mungkin berlangsung tanpa dialog. Dalam pendidikan multicultural, setiap perbedaan dan kebudayaan yang ada berada dalam posisi yang sejajar dan sama. Tidak ada kebudayaan yang lebih tinggi dari kebudayaan yang lain. Dialog meniscayakan adanya persamaan dan kesamaan di antara pihak-pihak yang terlibat. Anggapan bahwa kebudayaan tertentu lebih tinggi (superior) dari kebudayaan lain akan melahirkan: fasisme, nativisme, dan chauvinism. Melalui dialog, diharapkan terjadi sumbang pemikiran yang pada gilirannya akan memperkaya kebudayaan atau peradaban yang bersangkutan. Kebudayaan manusia pada dasarnya memiliki nilai-nilai yang sama, yang berbeda hanyalah kemasan budaya. Dialog diharapkan dapat mencari titik-titik persamaan sambil memahami titik-titik perbedaan antar kebudyaan. Bila hal ini tebangun maka terjalin relasi harmonis antar perbedaan dan kebudayaan yang ada. Kedua, toleransi. Toleransi adalah sikap menerima bahwa orang lain berbeda dengan kita. Dialog dan toleransi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bila dialog itu bentuknya, toleransi itu isinya. Sistem pendidikan kita selama ini terlalu menitikberatkan pada pengkayaan pengetahuan dan ketrampilan tetapi mengabaikan penghargaan atas nilai-nilai budaya dan tradisi bangsa. (Choirul Mahfud, 2006:viii - xiv) Perhatikan Kopi Pastenya di alamat blog berikut (lihat yang distabilo) http://yannyhya.blogspot.com/2014/05/pak-dalam-masyarakat-majemuk.html ODEL PAK YANG MULTIKUTUR DAN INKLUSIF 1. PENGERTIAN PENDIDIKAN MULTIKULTUR Pendidikan multicultural dapat diartikan sebagai pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi yang berarti banyak, kultur berarti budaya, dan isme berarti aliran/paham. Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitas dengan kebudayaan masing-masing yang unik. Dengan demikian, setiap individu merasa dihargai sekaligus merasa bertanggungjawab untuk hidup bersama komunitasnya. Pendidikan multicultural dapat dirumuskan sebagai wujud kesadaran tentang keanekaragaman cultural, hak-hak asasi manusia, serta pengurangan atau penghapusan berbagai jenis prasangka untuk membangun suatu kehidupan masyarakat yang adil dan maju. Pendidikan multicultural juga dapat diartikan strategi/perencanaan untuk mengembangkan kesadaran akan kebanggaan seseorang terhadap bangsanya. Di Indonesia pendidikan multicultural relative baru dikenal sebagai suatu pendekatan yang dianggap lebih sesuai bagi masyarakat Indonesia yang hetrogen, plural, terlebih pada masa otonomi dan desentralisasi yang diberlakukan sejak 1999. 2. PENGERTIAN PENDIDIKAN INKLUSIF Pengertian inklusif digunakan sebagai sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yang semakin terbuka; mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya. Terbuka dalam konsep lingkungan inklusif, berarti semua orang yang tinggal, berada dan beraktivitas dalam lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat merasa aman dan nyaman mendapatkan hak dan melaksanakan kewajibannya. Jadi, lingkungan inklusif adalah lingkungan sosial masyarakat yang terbuka, ramah, meniadakan hambatan dan menyenangkan karena setiap warga masyarakat tanpa terkecuali saling menghargai dan merangkul setiap perbedaan. Melihat kemajemukan yang ada di Indonesia maka pendidikan agama yang cocok adalah pendidikan agama yang inklusif. Pendidikan inklusif adalah para murid diajak untuk merefleksikan realitas kemajemukan. Pendidikan inklusif berarti pengajaran agama harus lebih menekankan nilai-nilai pluralisme dan kebersamaan. PAK harus membebaskan murid dari sekat-sekat primordial. Jangan sampai PAK melemahkan kemampuan bertoleransi dan menguatkan fanatisme. 3. CONTOH MODEL PAK YANG MULTIKULTUR DAN INKLUSIF a. Contoh PAK yang Multikultur Pertentangan etnis yang terjadi di negeri ini mengajarkan betapa pentingnya pendidikan multicultural dan bagi masyarakat. Pada sentra-sentra kebudayaan, seperti kota-kota besar, di mana hidup berbagai macam etnis di dalamnya, pertemuan antar kebudayaan merupakan persoalan yang menarik. Pada prinsipnya, pendidikan multicultural adalah pendidikan yang menghargai perbedaan. Untuk mendisain Pendidikan multicultural secara praktis memang tidak mudah. Akan tetapi untuk mewujudkan pendidikan multicultural maka perlu diperhatikan dua model: 1. Dialog. Pendidikan multicultural tidak mungkin berlangsung tanpa dialog. Dalam pendidikan multicultural, setiap perbedaan dan kebudayaan yang ada berada dalam posisi yang sejajar dan sama. Tidak ada kebudayaan yang lebih tinggi dari kebudayaan yang lain. Dialog meniscayakan adanya persamaan dan kesamaan di antara pihak-pihak yang terlibat. Anggapan bahwa kebudayaan tertentu lebih tinggi (superior) dari kebudayaan lain akan melahirkan: fasisme, nativisme, dan chauvinisme. Melalui dialog, diharapkan terjadi sumbang pemikiran yang pada gilirannya akan memperkaya kebudayaan atau peradaban yang bersangkutan. Kebudayaan manusia pada dasarnya memiliki nilai-nilai yang sama, yang berbeda hanyalah kemasan budaya. Dialog diharapkan dapat mencari titik-titik persamaan sambil memahami titik-titik perbedaan antar kebudyaan. Bila hal ini tebangun maka terjalin relasi harmonis antar perbedaan dan kebudayaan yang ada. 2. Toleransi. Toleransi adalah sikap menerima bahwa orang lain berbeda dengan kita. Dialog dan toleransi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bila dialog itu bentuknya, toleransi itu isinya. Sistem pendidikan kita selama ini terlalu menitikberatkan pada pengkayaan pengetahuan dan keterampilan tetapi mengabaikan penghargaan atas nilai-nilai budaya dan tradisi bangsa. Pendidikan multikultural harus dimulai dari keluarga, sekolah, gereja, dll. Contoh penerapan pendidikan multikultural dalam keluarga adalah mengajar anak menonton mimbar agama lain. Dari situ anak diajak untuk memahami nilai-nilai yang sama atau yang berbeda dan memberikan pengertian kepada anak tersebut supaya dia bisa menerima perbedaan dan persamaan tersebut. Contoh penerapan pendidikan multikultural di sekolah adalah peserta didik diajak untuk melihat nilai budaya lain sehingga peserta didik mengerti dan bisa menghargai yang berbeda budaya. Kelas di dekorasi dengan nuansa yang multikultur sehingga anak didik yang berbeda budaya tidak merasa di tolak. DEMIKIAN INFO TENTANG KOPI PASTE ISI BLOG SAYA OLEH BLOGGER dgn alamat http://yannyhya.blogspot.com/2014/05/pak-dalam-masyarakat-majemuk.html Jadi bila pembaca membaca isi blog ini maka ada beberapa yang persis sama dengan isi blog saya dalam weblog PAK Dalam Masyarakat Majemuk. MARI MENGHARGAI KARYA ORANG LAIN dengan mencantumkan sumber/link (alamat blog)

Sabtu, 29 Maret 2014

Jumat, 30 Agustus 2013

Kode HTML Karya Anakku

Malam ini, tgl. 30 Agustus 2013 saya merasa senang karena anakku berhasil membuat suatu kode HTML. hasilnya saya tampilkan dalam blog saya. Saya bersyukur karena kerinduan saya agar kelak nanti anak saya dapat menopang dan meneruskan semangat ngeblog sampai mencapai blogger profesional (berpenghasilan dari menulis di blog), hasil itu sudah saya alami. Saya akan terus berjuang.

Kamis, 02 Mei 2013

Nilai Akhir Mahasiswa



PT                   : STT IKSM Santosa Asih
Mata Kuliah  : PAK dalam Masyarakat Majemuk
Bobot             : 2 SKS (100 menit)
Semester      : VIII
Dosen            : Pdt. Dr. Yonas Muanley, M.Th.

No
Nama
UTS Online
35 %
Diskusi

30 %
UAS Online
35 %
NA
1
Aplena S. Kayai
35
25
32
92
2
Bina L.I. Toruan
35
25
34
94
3
Boy Riko Simanjuntak
35
25
34
94
4
Delmian H. Purba
35
25
33
93
5
Dewi S. Hasugian
35
25
32
92
6
Erlina Lumban Gaol
35
25
30
90
7
Ester E. Pasaribu
35
25
34
94
8
Gerdanus
35
25
32
92
9
Henno P. Duha
35
25
33
93
10
Isa A. Purba
35
25
32
92
11
Janiatur Simbolon
35
25
32
92
12
Join A. Atamau
35
25
30
90
13
Konedi
35
25
30
90
14
Krisno Simanjuntak
35
25
32
92
15
Ladesma Sitompul
35
25
33
93
16
Marhen Lengkong
35
25
35
95
17
Nancy S. Pulu
35
25
32
92
18
Riswanto Lago
35
25
33
93
19
Saliber
35
25
30
90
20
Syukurman Zebua
35
25
34
94
21
Tariapar H. Tambunan
35
25
34
94
22
Tioma
35
25
33
93
23
35
25
33
93
24
Yuohendri
35
25
33
93
25
Reny Grace Sitanggang
35
25
33
93

Jakarta, 1 Mei 2013

Ttd

Dr. Yonas Muanley, M.Th.
Dosen Tetap


Catatan:

Saya telah memasang link ke blog mahasiswa (klik yang berwarna, huruf italik). Bagi mahasiswa yang ingin memasang link seperti untuk: Marthen, Yonathan dan Grace maka bisa menghubungi saya atau tinggalkan komentar dan link di blog ini.